Docker Container Lifecycle
Docker Container memiliki alur hidup dari mulai "dibuat" hingga "dihancurkan". Memahami status kontainer membantu kita tahu kapan sebuah aplikasi benar-benar berjalan atau sedang mengalami kegagalan.
🔁 Alur Siklus Hidup Docker Container
Secara garis besar, alurnya adalah:
Created → Running → Paused (opsional) → Stopped → Deleted.
- Created: Kontainer sudah dibuat dari Image, tapi belum dinyalakan.
- Running: Kontainer sedang aktif dan proses di dalamnya sedang berjalan.
- Paused: Kontainer dihentikan sementara (prosesnya "tidur").
- Exited/Stopped: Kontainer berhenti (bisa karena selesai tugasnya atau karena error).
- Deleted: Kontainer dihapus dari sistem.
🔠 Tabel Ringkasan Perintah & Status
| Perintah | Status Akhir | Penjelasan |
|---|---|---|
docker create | Created | Menyiapkan kontainer tanpa menyalakannya. |
docker start | Running | Menyalakan kontainer yang sedang Stopped/Created. |
docker run | Running | Membuat dan menyalakan kontainer baru. |
docker stop | Exited | Mematikan aplikasi di dalam kontainer secara halus, atau docker container kill (mati paksa). |
docker pause | Paused | Membekukan proses kontainer sementara. |
docker rm | - | Menghapus record kontainer dari sistem. |
👍 Mengapa Memahami Lifecycle itu Penting?
-
Troubleshooting: Jika kita mengetik
docker psdan kontainer tidak muncul, cek dengan dockerps -a. Jika statusnya Exited (1), berarti aplikasi kita crash. Jika Exited (0), berarti aplikasi selesai berjalan dengan normal. -
Manajemen Data: Ingatlah bahwa data di dalam kontainer hanya akan bertahan selama kontainer belum mencapai status Deleted (kecuali pakai Volume).
-
Otomatisasi: Kita sering menggunakan flag
--rmsaat docker run. Ini berarti saat kontainer mencapai status Exited, ia akan langsung Deleted secara otomatis.Contoh:
docker run --rm alpine echo "Cek Saja".