Skip to main content

Docker Container Lifecycle

Docker Container Lifecycle

Docker Container memiliki alur hidup dari mulai "dibuat" hingga "dihancurkan". Memahami status kontainer membantu kita tahu kapan sebuah aplikasi benar-benar berjalan atau sedang mengalami kegagalan.

🔁 Alur Siklus Hidup Docker Container

Secara garis besar, alurnya adalah:

Created → Running → Paused (opsional) → Stopped → Deleted.

  1. Created: Kontainer sudah dibuat dari Image, tapi belum dinyalakan.
  2. Running: Kontainer sedang aktif dan proses di dalamnya sedang berjalan.
  3. Paused: Kontainer dihentikan sementara (prosesnya "tidur").
  4. Exited/Stopped: Kontainer berhenti (bisa karena selesai tugasnya atau karena error).
  5. Deleted: Kontainer dihapus dari sistem.

🔠 Tabel Ringkasan Perintah & Status

PerintahStatus AkhirPenjelasan
docker createCreatedMenyiapkan kontainer tanpa menyalakannya.
docker startRunningMenyalakan kontainer yang sedang Stopped/Created.
docker runRunningMembuat dan menyalakan kontainer baru.
docker stopExitedMematikan aplikasi di dalam kontainer secara halus, atau docker container kill (mati paksa).
docker pausePausedMembekukan proses kontainer sementara.
docker rm-Menghapus record kontainer dari sistem.

👍 Mengapa Memahami Lifecycle itu Penting?

  1. Troubleshooting: Jika kita mengetik docker ps dan kontainer tidak muncul, cek dengan docker ps -a. Jika statusnya Exited (1), berarti aplikasi kita crash. Jika Exited (0), berarti aplikasi selesai berjalan dengan normal.

  2. Manajemen Data: Ingatlah bahwa data di dalam kontainer hanya akan bertahan selama kontainer belum mencapai status Deleted (kecuali pakai Volume).

  3. Otomatisasi: Kita sering menggunakan flag --rm saat docker run. Ini berarti saat kontainer mencapai status Exited, ia akan langsung Deleted secara otomatis.

    Contoh: docker run --rm alpine echo "Cek Saja".